Jumat, 26 Maret 2010

ANTARA BUIH, RINDU, DAN GERIMIS

Ada buih putih disini
Menggumul lembut dan semakin memutih
Seperti tawa kecilmu yang bergelak berlarian
Bak mengejar elang yang terus merancah patas

Seketika aku larut dalam murninya
Bagai bianglala permai yang tergelar di muka tanah basah
Damai diatas damai
Sekali lagi, tawa kecilmu semakin berlarian
Malahan menjadi-jadi
Seperti genderang raja yang tak henti bertabuh
Hingga sepi terburai jadi rindu merah jambu yang perlahan mengepak memanjat langit

Terkutukkah jika memaki rindu yang memang benar ada?
Sepertinya pertanyaan yang gerimis tipis-pun mampu menjawabnya
Lewat nafas dan baunya yang diendus nikmat oleh banyak orang
Apakah gerimis tipis juga disebut gerimis jarum?
Yang rerintikkannya kurus-kurus dalam menembus metafora bumi

Sedangkan buih putih, masihkah menggumul dan memutih?
Dan rinduku, kuharap ia belum letih mengepak
Menjamahi area langit yang lapis demi lapisnya bak ilusi putih yang sebenarnya nyata

Aku punya seribu pertanyaan lagi yang masih menggelinjat di pikiran
Semoga buih, rindu, dan gerimis menuntunku menemukan jawabannya...



Kamis, 18 Juni 2009

.Ketika ketidakadilan bermetamorfosa menjadi talenta.

.Ketika ketidakadilan bermetamorfosa menjadi talenta.

Ada sebutir pasir yang warnanya coklat muda keemasan bertanya pada ombak yang bening,
"betapa damainya langit itu, anggun dalam kelabu, dan putih yang berkemelut.."
lalu ombak berkata, "iya, aku saja iri dengannya.. aku tak mampu menjangkaunya, tapi coba kau pikir, kira-kira ia senangkah dia bisa menjadi langit?"
"tentu saja.."
"kira-kira pernahkah ia bosan dengan hari-harinya yang selalu tertatih menyebrangi arak demi arak awan...?"
“mana mungkin ia bisa bosan, ketinggiannya ialah kebanggaannya, melihat dunia dengan tatapan tinggi.. hampir membumbung di buana..”
“bagaimana dengan galau yang ia alami karena lelah menyinggahi atmosfer demi atmosfer yang menggilas roda waktu yang terus berputar. Putar dan putar?”
Pasir mungil itu diam. Tak ada sepatah kata apapun yang dia ucapkan. yang ada di pikirannya hanya sebuah metafora putih yang diam dan hening.
“menurutmu, apakah Pencipta kita menggoreskan pena-pena kehidupan kita hanya dengan sembarang sapuan tinta bak ilusi melankolis tak ada arti?”
Pasir itu masih diam, tertunduk bersama matahari yang mengelabui awan-awan untuk berusaha mencercah sela-sela sekatnya. Seraya berfikir, betapa cerdasnya ombak yang bercakap di depanku ini, yang perlahan mengusik ketidakbersyukuranku.
“lalu mengapa Tuhan mencipta ketidakadilan? Mengapa terkadang hanya satu pihak yang selalu merasakan segarnya harum Anthurium andraeanum, sedangkan yang satunya masih terpaku mencium wangi tanah Regosol yang sama sekali kering? Mengapa ada yang memandang keindahan di tiap hari-harinya, sedangkan yang satunya mendekap suram bersama gelap yang masih terus membayanginya? Apa maksud dari ini semua? Hanyakah referensi konyol?”
“hidup dicipta untuk dicinta dan diperlakukan sebagai hidup. Jika Tuhan tidak menciptakan hidup dengan dua sisi akankah ada singgasana kebersamaan? Misalnya kepedulian untuk membantu sedikit saja dari kemampuan kita yang mengubah imajinasi-imajinasi yang terkadang egois karena mimpi. Termasuk ketidakadilan, sebenarnya itu hanyalah refleksi kumal yang mengedepankan emosi ketimbang logika. Sadarkah kita jika Tuhan menggambar ketidakadilan menyerupai sketsa talenta yang terkubur rapat di sebuah tulikkan dinamis yang berporos hampa, ya.. hampa yang harus dicari titik sumber kehampaannya agar dapat bergravitasi menjadi kekuatan yang dapat menerobos semua inspirasi.”

Pasir itu tersenyum sesal, sesal karna ia merasa ia telah sombong, lalu, dengan curi-curi ia tampakkan guratan bahagianya menjadi seorang pasir, lewat seringai senyumnya yang menghiasi awangnya sendiri karna refleksi talentanya yang mulai ia temukan, yaitu menghangatkan telapak-telapak berjuta-juta, bermiliar-miliar, bahkan bermega-mega kepala di muka bumi ini. Semua butuh tanah, sudah jelas keberadaan pasir sebagai komponen dari tanah yang sedikit bermetamorfosa menjadi lebih coklat susu dan lembut. Banyak pujangga-pujangga menggariskan tolak ukur antara langit dan bumi, bumi yang diwakili oleh tanah, dan sudah tentu presepsi mereka tentang langit dan tanah itu dalam hal yang tersenandung. Indah bermelodi kiasan.


Ketika ketidakadilan bermetamorfosa menjadi talenta, ketika itu pula banyak mimpi-mimpi yang mengepak di tidur bocah pada malam. Tentunya oleh langit yang teduh dan tanah yang damai..
17 June 2009, 22.26 p.m, kamar cantik
(*tulisan pertamaku di BLOG dimulai dari ranjang merah jambu-ku!! hahaa*)